Saturday, April 4, 2020

Cerita di Balik Pandemi

Di awal tahun 2020, muncul sebuah virus yang sebetulnya tidak terlalu mematikan dibanding penyakit-penyakit lain seperti wong salah tapi ora gelem ngaku salah. Virus ini dibanding Ebola, MERS, dan SARS dapat dikatakan tidak se-mematikan itu.


Namun walaupun tidak se-mematikan itu, penyebaran COVID-19 ini sangat-sangat rapid. Orang yang positif covid-19 hela napas jarak 1,5 meter kita bisa ketularan. Yang bahaya lagi, ini virus hinggap ke manusia gaada aba-abanya. Ibarat gaada angin gaada hujan tiba-tiba kita bisa ketularan virus ini dari napas orang. Dan setelah kisaran 3 bulan, akhirnya WHO mengumumkan bahwa COVID-19 merupakan pandemi.

Dampak dari hadirnya virus-virus cinta ini adalah kepanikan masyarakat seantero dunia. Semua orang melaksanakan ibadah Panic Buying. Intinya beli segala macem dan nimbun banyak buat konsumsi pribadi karena takut di pasar nanti bakal langka barangnya. Make sense aja sebenernya karena semua ini emang teori dasar supply vs demand. Tapi dalam pendekatan ilmu pengetahuan semuanya harus dikaitkan sama aspek Humanity. Apakah kita menjadi manusia seutuhnya jika kita secara sadar menimbun barang yang di luat sana lebih banyak membutuhkan? Dalam kasus per-covid-an ini hal yang paling kontroversial adalah penimbunan masker dan hand sanitizer.

Mencari keuntungan dengan menimbun masker disaat kebutuhan tinggi dan menjualnya dengan harga puluhan kali lipat, begitu juga dengan hand sanitizer. Yang jadi masalah utama sebetulnya bukan di masyarakatnya aja, tapi terutama tenaga medis. 13 dokter telah wafat saat menghadapi pandemi ini. Belum bahas perawat dan lain lain. 

Satu hal yang saya pelajari dari kejadian ini adalah:

Kita semua hanya binatang berbulu manusia

Kita diingatkan kembali bahwa kita sesungguhnya monyet kurang bulu. Orang utan make baju. Kera yang baca buku.

Di samping hal diatas, COVID-19 juga melumpuhkan kegiatan ekonomi skala internasional. Jangankan internasional. Tukang bubur aja dagangannya jadi sepi. PHK dilakukan secara massal oleh perusahaan-perusahaan. Indeks saham ambyaarrrr. Solusi agar kegiatan ekonomi masih bisa seenggaknya jalan dikit-dikit adalah diberlakukannya WFH yaitu working from home. Rapat online, unggah laporan via e-mail, ghibah via zoom.

Ga kalah, sekolah dan universitas pun juga melakukan sistem WFH. Dan uniknya karena virus ini, KKN dilaksanakan ONLINE. Dan gue termasuk dari pelaku KKN online. HAHAHA jujur gue sebenernya males KKN karena malu kating ditengah adek tingkat dan gue takut KKN menghambat pengerjaan tugas akhir gue. Eh ternyata KKN onlen.

Kuliah yang biasanya dilaksanakan di kelas merhatiin dosen di depan nulis di papan tulis, mahasiswa nyatet, atau you know, main instagram. Sekarang diganti jadi tatap muka online. Jujur susah banget kuliah online apalagi kalo antum adalah anak saintek. Karena kebetulan yang saya butuh dari kuliah itu bukan rumus jadi dan lain lain tapi pengen tau cerita dan langkah-langkah dasarnya tuh apa basisnya apa. Tapi apa daya, kuliahku terhalang kopet. Eh covid.

Kegiatan sehari-hari pun juga ikut amburadul. Gue biasanya tidur jam 10 malem bangun jam 5ish. Tapi sekarang tidur jam 3 bangun jam 10, gatau kenapa apa karena kurang kegiatan? bisa jadi. Dan yang lebih ambyar lagi adalah bagaimana survive saat menjadi perantau di tengah pandemi? Untuk bisa membayangkan kondisi saya, berikut obstacles yang menghambat beberapa kegiatan. 
  1. Kos yang tidak memiliki fasilitas KOLKAS
  2. Depot makan banyak sing closed
  3. Akses jalan banyak yang diblokir (local lockdown)
  4. STRESS DI KAMAR DOANG DISAAT TAHUN TERAKHIR KULIAH
Keterbatas penyimpanan makanan frozen food membuat saya kesulitan bertahan hidup, akhirnya makan mie, super bubur, sarden, kornet. Alhamdulillah walaupun begitu tetap bersyukur karena ditengah masa sulit ini masih dapat makan. Tapi jujur, lidah kaku lama-lama pak makan makanan instan melulu. Semoga bapak kos beliin kolkas di waktu dekat ini Aamiiinn.

Bosen makan makanan instan tapi tempat makan banyak yang tutup. Alhamdulillahnya lagi, warung padang depan kosan tetap buka. Tapi jujur, lidah aku lemes kalo makan santen melulu. Mau go-food juga kepikiran tentang potensi penularan virus.

Akses jalan gak cuma di blokir. Mau masuk gang disemprot disinfektan dulu gais. Ya mungkin semua itu juga dalam rangka antisipasi, tapi lama-lama bukan cuma virusnya yang terdegradasi, tapi kulit ambo juga.

Yang poin terakhir sebenernya yang paling bahaya. Stress karena kesendirian tuh bisa drive you nuts. Kayak gatau mau ngapain, ngomong ama temen susah, ngobrol online sensasinya jauh banget daripada ketemu mukanya langsung. Apalagi di tahun terakhir gini, wabilkhusus jika anda sedang skripsian atau mengerjakan tugas akhir. Udah susah, tambah susah. Sudah tolol, makin tolol. Bahaya banget stress sendiri nanti bisa losing your mind. Saran, chat sama temen, vidcall juga, banyakin positive thinking, kabarin orang rumah, sodara.

Setelah kesulitan akan ada kemudahan. Semoga ada yang dapat dipetik dari masa sulit yang kita semua sedang jalani ini. Jangan anggap remeh hal kecil, nyatanya saat ini seluruh dunia takut sama makhluk hidup yang ga bisa dilihat make mata.


#DiKosanAe
Satrio
Yogyakarta, 4 April 2020


No comments:

Post a Comment

How Far We've Changed

     Seringkali gue denger kalimat 'Jogja sudah tidak seperti dulu lagi'. Awalnya gue simpati, tapi setelah gue pikir lagi. Aren...